Dakwah

Sobat Kalo ada Nasehat – nasehat atau hadist – hadist soheh agama Islam mohon untuk mengisi pada halaman ini, Semoga bermanfaat Untuk kita khususnya dan Orang LAin Umumnya.

Salam

Um4R.com

55 Tanggapan

  1. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    NIAT

    Di dalam keseharian, kita menyaksikan, setidaknya ada 2 cara tentang niat sholat yang biasa dilakukan orang-orang sekitar kita, yaitu:

    Diucapkan (perlahan, atau agak keras, atau keras), misalnya : usholi fardhu maghribi tsalasa………..dst.
    Tidak diucapkan, hanya niat di dalam hati.

    Alasan cara point 1.

    Berdasarkan hadits : “Tidak (sah) amal-amal, melainkan berserta dengan niat” HR Bukhari.

    Alasan cara point 2.

    (a) Berdasarkan kenyataan, bahwa tidak ada tuntunan (hadits/ sunnah) tentang niat (ushali.dst) yang sampai pada kita, baik yang berasal dari Rasulullah SAW maupun dari para sahabatnya (orang-orang yang pernah hidup dimasa yang sama dengan Rasulullah SAW).

    (b) Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan(amal) dalam keadaan sadar/waras, dan bukan gerakan refleks, maka sudah pasti perbuatan itu sudah ia niatkan.

    (c) Berdasarkan hadits : “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat” HR.Bukhari). dan

    “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami (Allah SWT/ Rasulullah SAW), maka dia tertolak.” (Muttafaq ‘alaih, hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha),

    (d) Berdasarkan QS Al Maidah ayat 3 yang intinya menyatakan, bahwa Allah SWT menyatakan Islam (dengan semua aturannya) sudah sempurna, jadi apabila kita menambah-nambah, atau mengurangi, atau memodifikasinya, maka tanyalah kepada diri kita sendiri : Apakah kita “lebih tahu/pandai” daripada Nya?

    Selanjutnya, tentang cara yang mana yang akan dipakai terserah keyakinan kita masing-masing, karena akibat dari suatu amalan (dosa/pahala), adalah tanggung-jawab kita masing-masing.

    Semoga bermanfa’at.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Deddy Setiawan

  2. Thanks Jo,

  3. Dalam shalat, kita mengenal ada yang namanya : Syarat syahnya Shalat, Rukun Shalat, dan Sunnah-sunnah Shalat.

    (1) Syarat Syahnya Shalat :

    Islam
    Berakal
    Baligh
    Suci dari hadist kecil dan besar
    Suci badan, pakaian dan tempat shalat
    Masuk waktu shalat
    Menutup aurat
    Menghadap kiblat

    (2) Rukun Shalat :

    1. Niat shalat
    2. Takbiratul-Ihram, الله اكـبر

    3. Berdiri bagi yang sanggup ketika melaksanakan shalat wajib

    Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’ ( QS. Al-Baqarah : 238 )

    4. Membaca surat alfatihah

    5. Ruku’

    6. Bangkit dari Ruku

    7. I’tidal

    8. Sujud

    9. Bangkit dari sujud

    10 Duduk diantara dua sujud

    11. Membaca tasyahud Akhir ketika duduk akhir

    12. Salam

    13. Thumaninah ketika ruku, berdiri , sujud dan duduk
    14. Melakukan rukum-rukun shalat secara berurutan

    Jadi tidak semua yang ada dalam shalat terbilang wajib dilaksanakan, seperti ; mengangkat tangan sejajar dengan bahu/ kuping, meletakan telapak tangan kanan diatas tangan kiri, membaca do’a Iftitah dan do’a-do’a . Sejauh yg saya tahu hanya sunnah bukan perkara wajib (rukun shalat.) Dan mohon maaf, dalil yang bapak berikan itu (jika kita baca sepintas ) tidak ada penekanan yg wajib untuk membaca do’a iftitaf. Bisa jadi dalill itu adalah untuk hal-hal yg wajib dilaksanakan secara umumm dalam shalat, dan memang secara umum, shalat merupakan bukti kita memuji dan menyanjungan Allah SWT .

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku ( QS. Toha : 14 )

    Dengan demikian, maka untuk kata-kata dalam hadist yaitu misalnya : “tidak sempurna sholat seseorang apabila……” berarti sholatnya tetap sah, hanya saja tidak/kurang sempurna, karena bukan merupakan salah satu sahnya sholat maupun rukun sholat.

    Contoh : hal do’a iftiftah. Perhatikan kutipan tulisan saya di bawah ini.

    Dalil yang menyatakan bahwa do’a istiftah itu wajib: (saya salah tik, seharusnya : merupakan salah satu kesempurnaan sholat, bukan wajin)

    “ Tidak akan sempurna sholat seorangpun dikalangan manusia hingga bertakbir, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah Azza wa Jalla (do’a

    iftitah), lalu membaca Al Qur’an yang mudah baginya” HR Abu Dawud, Al Hakim

    DO’A ISTIFTAH

    Hukum dasar:

    “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat” HR.Bukhari).

    “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami (Allah SWT/ Rasulullah SAW), maka dia tertolak.” (Muttafaq ‘alaih, hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha),

    Sering kita lihat ada beberapa macam/cara orang membaca do’a istiftah, diantaranya ada yang mempunyai dasar hukum/dalil, yaitu antara lain:

    “Subhaanakallaahumma wa bihamdika…….dst berdasarkan HR Abu Dawud, Muslim, Daruquthni.
    “Allaahumma baa-id baini………………….…dst berdasarkan HR Bukhari, Muslim.
    “Wajahtu wajhiya………………………………..dst berdasarkan HR Ahmad, Muslim.

    Dalil yang menyatakan bahwa do’a istiftah itu wajib:

    “ Tidak akan sempurna sholat seorangpun dikalangan manusia hingga bertakbir, kemudian ia memuji dan menyanjung Allah Azza wa Jalla (do’a

    iftitah), lalu membaca Al Qur’an yang mudah baginya” HR Abu Dawud, Al Hakim.

    Kesimpulannnya:

    (1) Sholat tidak sempurna bila tidak membaca do’a iftitah.

    (2) Rasulullah SAW biasa berdo’a iftitah dengan redaksi yang berbeda-beda.

    (3) Do’a ini dibaca tanpa suara. Saya tidak menemukan dalilnya, tetapi tidak ada pertentangan diantara kita semua dalam hal ini.

    (4) Selanjutnya, tentang cara yang mana yang akan dipakai terserah keyakinan kita masing-masing, karena akibat dari suatu amalan (dosa/pahala), adalah tanggung-jawab kita masing-masing, tetapi saya sarankan untuk memperhatikan hukum dasar sholat seperti hadist di paling atas.

    Semoga bermanfa’at.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Deddy Setiawan

  4. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    SURAH SETELAH AL FATIHAH

    Hukum dasar sholat:

    1. “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat” HR.Bukhari). Ini perintah Rasulullah SAW.

    2. “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami (Allah SWT/ Rasulullah SAW), maka dia tertolak.” (Muttafaq ‘alaih, hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha),

    Sering kita lihat ada beberapa macam/cara orang membaca surah (setelah Al Fatihah ketika sholat), berikut ini beberapa hadits terkait dengan hal tsb:

    “Telah berkata Abu sa’id: kami diperintah (oleh Rasulullah) supaya membaca Al Fatihah dan apa-apa (ayat atau surah) yang mudah” HR Abu Dawud.

    “Dari Abi Qatadah, bahwa adalah Nabi SAW pernah membaca Al Fatihah dan bersama itu (ia baca) surah di dua raka’at yang pertama dari sholat zhuhur dan ashar, dan kadang-kadang kedengaran ayat-ayat itu kepada kami” HR Bukhari.

    “Sholat yang paling utama, adalah yang paling lama berdirinya” HR Muslim, Ath-Thahawy.

    “ Rasulullah SAW ketika shalat dhuhur membaca Ummul Kitab ( Al-Fatihah ) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau SAW membaca ummul kitab saja pada dua rakat berikutnya dan terkadang beliau perdengarkan ayat ( yang dibacanya ) kepada para sahabat “ ( Muttafaq’alaih )

    “Aku melakukan sholat dan aku ingin memperpanjang bacaannya akan tetapi, tiba-tiba aku mendengar suara tangis bayi sehingga aku memperpendek sholatku karena aku tahu betapa gelisah ibunya karena tangis bayi itu.” (HR.Bukhari dan Muslim)

    Ubaidullah berkata dari Zaid bin Tsabit: dari Anas, “Salah seorang Anshar shalat mengimami orang-orang Anshar yang lain di Masjid Quba’. Sudah menjadi kebiasaannya membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ (setelah membaca surah al-Faatihah) apabila dia hendak membaca suatu bacaan di dalam shalat. Setelah selesai membaca surah itu (Qul Huwallaahu Ahad), dia membaca surah yang lain bersamanya. Hal itu ia lakukan pada setiap rakaat. Beberapa orang kawannya mengemukakan pembicaraan atau saran kepadanya dengan berkata, ‘Sesungguhnya Anda membaca surah itu dan tidak menganggapnya cukup, dan Anda membaca surah yang lain. Bagaimana kalau Anda membaca surah itu saja atau meninggalkannya dan membaca yang lain?’ Orang Anshar itu menjawab, ‘Aku sama sekali tidak akan meninggalkan bacaan surah ‘Qul Huwallahu Ahad’ itu. Oleh sebab itu, kalau kamu semua masih senang jika aku menjadi imam untukmu dengan cara sebagaimana yang kulakukan itu, maka aku akan mengerjakan (bertindak sebagai imam). Dan, jika kamu sudah tidak senang terhadap yang demikian itu, biarlah aku tinggalkan kamu.’ Mereka mengetahui bahwa dia adalah orang yang terbaik di antara mereka. Mereka pun tidak ingin orang lain menggantikannya untuk mengimami mereka. Pada waktu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka seperti biasanya, mereka memberitahukan hal itu kepada beliau. Lalu Nabi bersabda kepada orang itu, ‘Hai Fulan, apa yang melarangmu dari melakukan sesuatu yang dimintai oleh sahabat-sahabatmu? Dan, apa yang mendorongmu untuk senantiasa membaca surah itu di dalam setiap rakaat?’ Dia menjawab, ‘Aku menyukai surah itu.’ Nabi bersabda, ‘Kecintaanmu kepada surah itu akan membuatmu masuk surga.’” ( HR.Bukhari )

    “ Abdullah bin Saib meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah al-Mu’minuun dalam shalat subuh. Ketika sampai pada cerita tentang Musa dan Harun atau tentang Isa, beliau batuk, lalu ruku (tidak meneruskan surah itu sampai selesai/tamat). ( HR.Bukhari )

    Umar membaca sebanyak 120 ayat dari surah al-Baqarah dalam rakaat pertama. Dalam rakaat kedua membaca sebuah surah dari al-Matsani ’surah-surah yang kurang dari 100 ayat’. ( HR.Bukhari )

    Dalam sholat yang bacaannya di-jahr-kan Nabi membaca dengan keras dan jelas. Tetapi pada sholat dzuhur dan ashar juga pada sholat maghrib pada roka’at ketiga ataupun dua roka’at terakhir sholat isya’ Nabi membacanya dengan lirih yang hanya bisa diketahui kalau Nabi sedang membaca dari gerakan jenggotnya, tetapi terkadang beliau memperdengarkan bacaannya kepada mereka tapi tidak sekeras seperti ketika di-jahr-kan. (HR Al-Imam Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

    Rasulullah berkata bahwa orang yang membaca Al-Qur-an kelak akan diseru: “Bacalah, telitilah dan tartilkan sebagaimana kamu dulu mentartilkan di dunia, karena kedudukanmu berada di akhir ayat yang engkau baca.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

    “Perindahlah/hiasilah Al-Qur-an dengan suara kalian [karena suara yang bagus menambah keindahan Al-Qur-an].”
    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari , Abu Dawud, Ad-Darimi, Al-Hakim dan Tamam Ar-Razi)

    “Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur-an.”
    (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi)

    Ibnu Mas’ud membaca 40 ayat dari surah al-Anfal (pada rakaat yang pertama) dan pada rakaat yang kedua membaca satu surah dari surah al Mufashshal ’surah-surah pendek, yang di mulai dari surah 50 (surah Qaaf) sampai akhir Al-Qur’an’. Qatadah berkata mengenai orang yang membaca satu surah di dalam dua rakaat atau mengulangi surah yang sama dalam dua rakaat, “Semua itu adalah kitab Allah.”

    Kesimpulannnya:

    (1) Dari hadits point 1 di atas, bisa menjadi 2 arti/maksud, yaitu (a) surah (setelah Al Fatihah) itu termasuk yang diperintahkan (wajib) atau (b) hanya Al Fatihah-nya saja yang wajib sementara surat lainnya tidak wajib(sunnah). Tetapi, ada hadits shahih lain yang cukup panjang, yang menceritakan suatu kejadian / percakapan antara Rasulullah SAW, sahabat Mu’adz, dan seorang pemuda mujahid yang sholat sendirian tanpa membaca surah lain setelah membaca Al Fatihah, dan Rasulullah SAW tidak menyalahkan dia, sehingga tersirat, bahwa bacaan surah (setelah Al Fatihah bukan wajib, boleh ditinggalkan asalkan ada sesuatu urusan yang mendesak. Waktu itu kondisinya pemuda tsb akan segera berperang karena musuh sudah dekat). HR Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi, Abu Dawud, Bukhari, Muslim.

    (2) Dari hadits point 1 di atas, setelah surah Al Fatihah, boleh dibaca surah (atau bahkan ayat) apa saja yang mudah/hafal bagi imam.

    (3) Dari hadits point 2 di atas, Rasulullah SAW mencontohkan, bahwa beliau membaca surah (setelah Al Fatihah) hanya di 2 raka’at pertama saja.

    (4) Dari hadits point 2 di atas, Rasulullah SAW dalam membaca Al Fatihah dan surah lainnya ketika sholat zhuhur dan ashar, dimana secara umum seharusnya dibaca dengan suara sangat halus, ternyata kadang-kadang terdengar juga oleh makmum.

    (5) Dari hadits point 3 dan 5 di atas, tersirat, bahwa semakin lama berdiri ketika sholat (bisa diartikan : imam membaca surah yang panjang-panjang, dan tartil), sholat kita semakin bernilai. Tetapi imam juga harus mempertimbangkan situasi dan kondisi makmum, ia harus mempercepat sholatnya bersama makmum apabila ia melihat/merasakan/mendengar/mengira ada hal-hal yang mendesak. Akan halnya sholat berjama’ah di masjid kantor kita, sebaiknya imam memilih surah yang sedang-sedang saja, karena banyak makmum yang perlu cepat, misalnya driver yang ditunggu majikannya, tamu yang masih banyak urusan lain di tempat lain, dll. Dalam hal ini, masih banyak yang justru berbuat sebaliknya, dimana ketika ia jadi imam, ia baca surah yang panjang, sedangkan ketika ia sholat sendirian/sholat sunnah ia baca surat yang pendek.

    (6) Dari hadits point 13 di atas, kita boleh membaca surah yang sama, yang itu-itu terus setiap sholat (setelah Al Fatihah). HR Bukhari, Tirmidzi.

    (7) Tidak ada larangan sholat sambil baca langsung dari Al Qur’an. Karena waktu Rasulullah SAW masih hidup, Al Qur’an belum dibukukan seperti saat ini. Tetapi perlu diperhatikan 2 hadist yang pernah saya kemukakan, yaitu (1) Pandangan mata harus selalu ke tempat sujud (2) Cukup membaca surah (bahkan ayat) yang mudah/hafal saja, jadi jangan memaksakan diri apabila memang belum hafal benar.

    (8) Dari hadits point 7 & 8 di atas, tersirat bahwa kita boleh membaca surah (setelah Al Fatihah) tidak sampai selesai/tamat, lalu ruku.

    (9) Dari hadits point 6 di atas, tersirat bahwa kita boleh membaca surah (setelah Al Fatihah) lebih dari satu surah dalam satu raka’at.

    (10) Dari hadits point 9 di atas, tersirat bahwa cara baca surah (setelah Al Fatihah) sama kuatnya dengan Al Fatihah, yaitu nyaring ketika sholat Maghrib/Isya/Subuh, dan tidak terdengar oleh orang lain (dalam hati) ketika sholat Dzuhur dan Ashar. Tetapi kadang-kadang suara Rasulullah SAW dapat terdengar oleh makmum yang dekat dengan beliau (lihat Point 4 & 9)

    (11) Tata cara sekitar pembacaan surah lain (setelah Al Fatihah) yang isinya tidak serupa/di luar dari penjelasan di atas belum saya temukan dalil hukumnya. Apabila rekan-rekan mempunyai referensi dalil yang lain, tolong kita saling memberi tahu demi kesempurnaan sholat kita semua. Mohon maaf.

    Selanjutnya, tentang cara yang mana yang akan dipakai terserah keyakinan kita masing-masing, karena akibat dari suatu amalan (dosa/pahala), adalah tanggung-jawab kita masing-masing, tetapi saya sarankan untuk memperhatikan hukum dasar sholat seperti hadist di paling atas (sholat seperti yang dicontohkan nabi).

    Semoga bermanfa’at.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Deddy Setiawan

    Disadur dari berbagai buku / sumber.

  5. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    ALFATIHAH

    Hukum dasar sholat:

    1. “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat” HR.Bukhari). Ini perintah Rasulullah SAW.

    2. “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami (Allah SWT/ Rasulullah SAW), maka dia tertolak.” (Muttafaq ‘alaih, hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha),

    Sering kita lihat ada beberapa macam/cara orang membaca Al Fatihah ketika sholat, berikut ini beberapa hadits terkait dengan hal tsb:

    a. Wajib membaca Al Fatihah.

    1. “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca surah Al Fatihah” HR Al Bukhari, Muslim, Abu ‘Uwanah, Al Baihaqi.

    2. “Tidaklah sah sholat yang pelakunya tidak membaca Al Fatihah di dalamnya” HR Ad-daruqutny, Ibnu Hibban.

    3. “Barangsiapa yang sholat dan tidak membaca surat Al Fatihah di dalamnya, maka sholatnya tersebut, kurang, kurang, tidak sempurna” HR Muslim, Abu Awanah.

    b. Cara membaca Al Fatihah.

    1. Membaca ta’awudz (audzubillah…..dst) dan basmalah, cara bacanya harus dengan suara lembut/ tidak nyaring. HR Bukhari, Muslim, Abu ‘Uwanah, Ath – Thahawy, Ahmad) (* Lihat penjelasan di bawah)

    2. Rasulullah berhenti pada setiap akhir ayat (tidak menyambungnya) HR Abu Dawud, As Sahmy

    3. “Apakah diantara kalian ada yang membaca bersamaku tadi?” Salah seorang lelaki (makmum) menjawab, “Ya, akulah orangnya wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda:”Mengapa aku dibarengi dalam bacaan?” HR Malik, Al Humaidy, Al Bukhari, Abu Dawud, Ahmad, Al Muhamilyu, At Tarmidzi, Abu Hatim Ar Razy, Ibnu Hibban, Ibnul Qayyim.

    4. “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian, dan bila ia membaca, maka diamlah kalian” HR Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud, Muslim, Abu ‘Uwanah, Ar Ruyany.

    5. “Barangsiapa sholat mengikuti imam(makmuman), maka bacaan imam adalah bacaan baginya pula” HR Ibnu Syaibah, Ad Daruquthny, Ibnu Majah, Ath Thahawy, Ahmad, Ibnu Taimiyah.

    6. “Siapa diantara kalian yang membaca sabibishisma Rabbikal a’laa?”. Salah seorang lelaki (makmum) menjawab:”Aku”. Maka nabipun bersabda: ”Sekarang aku tahu ada seseorang yang mengacaukan bacaanku” HR Muslim, Abu “Awanah, As Siraj.

    7. Dahulu para sahabat biasa membaca dengan keras di belakang nabi. Maka beliau bersabda:”Kalian telah mengacaukan bacaan Al Qur’anku” HR Bukhari, Ahmad, As Siraj.

    8. “Sesungguhnya orang sholat itu sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka hendaknya ia memperhatikan munajatnya kepada Rabbnya, dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al Qur’an (di saat sholat) sehingga mengganggu sebagian yang lain” HR Malik, Al Bukhari

    9. Ketika nabi selesai membaca Al Fatihah, beliau membaca aamiin dengan suara keras dan panjang HR Al Bukhari, Abu Dawud.

    10. “Apabila imam telah membaca ghairil maghduubi ‘alaihim wa ladhoolliin, maka ucapkan aamiin. Karena barang siapa mengucapkan aamiin-nya berbarengan dengan ucapan malaikat niscaya akan diampuni dosanya yang telah lewat” HR Al Bukhari, An Nasa’I, Ad Darimy

    11. “Maka ucapkanlah aamiin niscaya Allah akan mengabulkan permintaan kalian” HR Muslim, Abu ‘Awanah.

    12. “Tidaklah orang Yahudi merasa dengki kepada kalian dalam suatu perkara melebihi kedengkiannnya dalam perkara ucapan salam dan aamiin (dibelakang imam)” HR Al Bukhari, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ahmad, AsSiraj

    c. Kesimpulannnya:

    (1) Dari ke tiga hadits di atas, dua menyatakan Al Fatihah itu wajib, dan satu menyatakan sholat tanpa Al Fatihah tidak sempurna. Tetapi kita semua meyakini bahwa sholat tidak sah bila tidak membaca Al Fatihah.

    (2) (*) Sedikitnya ada dua pendapat yang sering kita lihat(tidak perlu dipertentangkan, hal ini hanya khilafiah saja, silakan pilih salah satunya), yaitu:

    (a) Semua ayat Al Fatihah, yaitu mulai dari basmalah dst, dibaca nyaring. Kelompok yang ini memakai “dalil umum”, yaitu bahwa Al Fatihah harus dibaca nyaring pada sholat Maghrib, Isya, dan Subuh, sedangkan basmalah termasuk ayat (pertama) dari Al Fatihah

    (b) Basmalah dibaca dengan suara lembut/ tidak nyaring. Alasannya, walaupun ada “dalil umum” di atas (Al Fatihah dibaca nyaring), tetapi ada juga “dalil khusus”, yaitu bahwa khusus cara membaca ta’awudz (audzubillah…..dst) dan basmalah tsb, ada dalil lain, yaitu harus dengan suara lembut/ tidak nyaring. Banyak contoh ketentuan umum yang dikecualikan oleh ketentuan khusus, misalnya jama’ah lelaki harus di depan sedangkan perempuan harus di belakang (dalil umum), kecuali di masjidil Haram (dalil khusus).

    (3) Dalam sholat berjama’ah Maghrib, Isya, Subuh, imam membaca Al Fatihah dengan suara nyaring, dan makmum harus diam mendengarkan (ini perintah nabi, bahkan nabi menegur orang-orang yang membaca surah apapun ketika mereka sedang jadi makmum).

    (4) Dalam sholat berjama’ah Dzuhur dan Ashar, imam dan makmum masing-masing membaca Al Fatihah (dan surah lainnya) tanpa suara sedikitpun agar tidak saling mengganggu.

    (5) Bila nyatanya membaca surah Al Qur’an dengan suara keras (terdengar oleh orang lain) ketika sedang menjadi makmum saja sudah dilarang oleh nabi, dengan alasan agar tidak saling mengganggu, maka apalagi sedang tidak jadi makmum, terlebih lagi berkata-kata/ ribut / bercanda sementara ada yang sedang sholat. Jadi intinya di dalam masjid harus diusahakan diam/sunyi ketika ada yang sedang sholat, kecuali ada acara resmi, misalnya khatib ketika khutbah, ustadz ketika dakwah, qori/qori’ah ketika pengajian resmi, dll. Bila ingin membaca Al Qur’an diluar acara resmi tsb (perorangan), sementara sedang ada orang yang sholat, maka bacalah dalam hati saja, pahalanya sama saja, dan tidak mengganggu orang yang sedang sholat tsb.

    (6) Membaca Al Fatihah ketika sholat yang dicontohkan oleh nabi, adalah dengan cara membaca ayat demi ayat, tidak boleh disambung, dan tartil (tidak tergesa-gesa). Ada hadist lain yang menyatakan, bahwa Allah SWT “menjawab” setiap kita membaca ayat-demi ayat Al Fatihah ketika sholat.

    (7) Setelah imam selesai baca Al Fatihah, maka imam dan makmum sama-sama membaca aamiin dengan suara nyaring dan panjang.

    (8) Tata cara sekitar pembacaan Al Fatihah yang di luar dari penjelasan di atas belum saya temukan dalil hukumnya. Apabila rekan-rekan mempunyai referensi dalil yang lain, tolong kita saling memberi tahu demi kesempurnaan sholat kita semua. Mohon maaf.

    Selanjutnya, tentang cara yang mana yang akan dipakai terserah keyakinan kita masing-masing, karena akibat dari suatu amalan (dosa/pahala), adalah tanggung-jawab kita masing-masing, tetapi saya sarankan untuk memperhatikan hukum dasar sholat seperti hadist di paling atas (sholat seperti yang dicontohkan nabi).

    Semoga bermanfa’at.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Deddy Setiawan

    Disadur dari berbagai buku sumber.

  6. BERSIDEKAP & ARAH PANDANGAN MATA/WAJAH KETIKA SHOLAT.

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Hukum dasar:

    (1) “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat” HR.Bukhari).

    (2) “Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami (Allah SWT/ Rasulullah SAW), maka dia tertolak.” (Muttafaq ‘alaih, hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha),

    Sering kita lihat ada beberapa macam/cara orang bersidekap dan arah pandangan mata ketika sholat, bagaimanakah dalil-dalilnya/ hukumnya yang ada?

    Cara bersidekap dan arah pandangan mata ketika sholat.

    Telah berkata Wa’il : “ Saya pernah lihat Nabi SAW mengangkat kedua tangannya waktu masuk sholat, ia takbir, kemudian ia letakaan tangan
    kanannya di atas tangan kirinya” HR Muslim, Abu Dawud.

    “Sesungguhnya kami para nabi diperintahkan untuk mensegarakan buka puasa dan mengakhirkan sahur, serta meletakan tangan kanan diatas tangan
    kiri dalam sholat” HR Ibnu Hibban.

    Nabi tatkala sholat, beliau menundukan kepala dan pandangannya tertuju ketempat sujud. HR Al Baihaqi, Al Hakim

    “Sungguh hendaknya suatu kaum menghentikan perbuatan mereka mengangkat pandangan (menengadah) ke langit ketika sholat atau pandangan
    mereka tidak akan kembali (buta)” HR Bukhari, Muslim, As Siraj.

    “Apabila kalian sholat maka jangan sekali-kali menoleh, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menghadapkan wajahNya ke wajah hambaNya disaat
    sholat selama ia tidak menoleh” HR At Tarmidzi, Al Hakim.

    “Hal itu (menoleh ketika sholat) merupakan curian setan dari sholat seorang hamba” HR Bukhari , Abu Dawud.

    “Allah Ta’ala akan senantiasa menghadap ke arah hambaNya ketika sholat, selama ia tidak menoleh, bila hamba tersebut memalingka wajahnya,
    maka Allah pun akan berpaling pula darinya” HR Abu dawud, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban.

    Kesimpulannnya:

    (1) Bersidekap dalam sholat, yaitu dengan cara tangan kanan di atas tangan kiri, seperti yang Allah SWT telah perintahkan kepada para nabi. Saya tidak menemukan dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan contoh yang lain, misalnya tangan kiri di atas tangan kanan, atau kedua tangan lurus di samping paha, dll.

    (2) Posisi tangan ketika sidekap tersebut apakah di atas dada, di bawah dada, atau di pusar, saya tidak menemukan dalilnya.

    (3) Pandangan mata/wajah tetap ke arah tempat wajah kita diletakan ketika sujud, karena itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan beliau telah melarang menoleh, bahkan memperingatkannya bagi orang yang arah pandangan matanya tidak tertuju kepada titik tempat sujud ketika sholat (bisa/terancam buta, atau setidaknya Allah SWT akan memalingkan wajahNya pula). Tidak ada dalil yang menyatakan hal ini akan membatalkan sholat.

    (4) Tata cara sekitar bersidekap dan arah pandangan mata/wajah yang di luar dari penjelasan di atas belum saya temukan dalil hukumnya. Mohon maaf.

    (5) Apabila rekan-rekan ada yang mengetahui dalil lain yang sah/shahih, tolong saling memberi tahukan diantara kita.

    Selanjutnya, tentang cara yang mana yang akan dipakai terserah keyakinan kita masing-masing, karena akibat dari suatu amalan (dosa/pahala), adalah tanggung-jawab kita masing-masing, tetapi saya sarankan untuk memperhatikan hukum dasar sholat seperti hadist di paling atas (sholatlah seperti sholatnya Rasulullah SAW, ini perintah beliau).

    Semoga bermanfa’at.

    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Deddy Setiawan

    Dikutip dari berbagai sumber.

  7. Dari Abdullah Ibnu Salam bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat.” Hadits shahih riwayat Tirmidzi

  8. Amiiinnn

  9. 60 Pintu Pahala Dan Pelebur Dosa

    Milis DT – Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad saw dan utusan yang paling mulia. Risalah ini ditujukan kepada setiap muslim yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan- Nya dengan sesuatu apapun.

    Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya.

    Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    1. TAUBAT
    “Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya” (HR. Muslim, No. 2703.)

    “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan” .

    2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU
    “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga” HR. Muslim, No.. 2699.

    3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH
    “Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: “Tentu”, lalu beliau bersabda: Zikir kepada Allah Ta`ala” HR. At Turmidzi, No. 3347.

    4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN
    “Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya” HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.

    5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH
    “Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” HR. Muslim, No. 2674.

    6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.
    “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman” HR. Muslim, No. 804.

    7. MEMBACA AL QUR`AN

    “Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya” HR. Muslim, No. 49.

    8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA
    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an & mengajarkannya ” HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.

    9. MENYEBARKAN SALAM
    “Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam” HR. Muslim, No.54.

    10. MENCINTAI KARENA ALLAH
    “Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: “Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku” HR. Muslim, No. 2566.

    11. MEMBESUK ORANG SAKIT
    “Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga” HR. Tirmidzi, No. 969.

    12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG
    “Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat” HR. Muslim, No.2699.

    13. MENUTUP AIB ORANG LAIN
    “Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat” HR. Muslim, No. 2590.

    14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI
    “Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.

    15. BERAKHLAK YANG BAIK
    “Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” HR. Tirmidzi, No. 2003.

    16. JUJUR
    “Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga” HR. Bukhari Juz.. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.

    17. MENAHAN MARAH
    “Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” HR. Tirmidzi, No. 2022.

    18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS
    “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a: (Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut” HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.

    19. SABAR
    Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahan nya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.

    20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
    “Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka…!” Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga” HR. Muslim, No. 2551.

    21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN
    “Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah” dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka” HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.

    22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM
    “Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini,” seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah. HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.

    23. WUDHU`
    “Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya” HR. Muslim, No. 245.

    24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`
    Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan: (Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci),” maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Muslim, No. 234.

    25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN
    “Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan: “Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya” maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat.” HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.

    “Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga” HR. Bukhari, No. 450.

    27. BERSIWAK
    “Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat” HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.

    28. BERANGKAT KE MASJID
    “Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore” HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.

    29. SHALAT LIMA WAKTU
    “Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa” HR. Muslim, No. 228.

    30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR
    “Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.

    31. SHALAT JUM`AT
    “Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari” HR. Muslim, 857.

    32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT
    “Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya. ” HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.

    33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB
    “Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga” HR. Muslim, No. 728.

    34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
    “Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya” HR. Abu Daud, No.1521.

    35. SHALAT MALAM
    “Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam” HR. Muslim, No. 1163.

    36. SHALAT DHUHA
    “Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha” HR. Muslim, No. 720.

    37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW
    “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali” HR. Muslim, No. 384.

    38. PUASA
    “Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.

    39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN
    “Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa” HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.

    40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL
    “Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa” HR. Muslim, 1164.

    41. PUASA `ARAFAH
    “Puasa pada hari `Arafah (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang” HR. Muslim, No. 1162.

    42. PUASA `ASYURA
    “Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya” HR. Muslim,No. 1162.

    43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
    “Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun” HR. Tirmidzi, No. 807.

    44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR
    “Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.

    45. SEDEKAH
    “Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api” HR. Tirmidzi, No. 2616.

    46. HAJI DAN UMRAH
    “Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga” HR. Muslim, No. 1349.

    47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH
    “Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun” HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.

    48. JIHAD DI JALAN ALLAH
    “Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.

    49. INFAQ DI JALAN ALLAH
    “Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang” HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.

    50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
    “Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: “Apakah dua qirat itu?”, beliau menjawab: Seperti dua gunung besar” HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.

    51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
    “Siapa yang menjamin bagiku “sesuatu” antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.

    52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH & SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
    “Barangsiapa mengucapkan: sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya”. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan” HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.

    53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
    “Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang” HR. Muslim.

    54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
    “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga” HR. Ahmad dengan sanad yang baik.

    55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN

    ” Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga” HR. Bukhari.

    57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
    “Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya” HR. Abu Daud.

    58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
    “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga?” Mereka berkata: “Tentu wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda: “Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga.” Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.

    59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
    “Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki.” HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.

    60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
    “Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga” Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.

  10. bagus bangat tuh bisa jadi panduan gw, trimakasih yah Ba :)

  11. sipppppp………….bgt tuh…
    makacih jg ba….

  12. iya sama2 yach, semoga qt tetap istiqomah menjalaninya.

  13. PENGARUH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

    Oleh
    Ummu Salamah As-Salafiyyah

    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Aku pernah tidur, lalu aku bermimpi diriku berada di Surga, lalu aku mendengar suara seorang yang sedang membaca (al-Qur’an), lalu kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah Haritsah bin an-Nu’man”

    Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Demikianlah ganjaran dari berbakti, demikianlah ganjaran dari berbakti”

    Beliau adalah orang yang paling berbakti terhadap ibunya. [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih]

    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ketika ada tiga orang berjalan-jalan tiba-tiba mereka kehujanan, lalu mereka berteduh di dalam gua pada sebuah gunung. Ketika mereka tengah berada di dalam gua itu, tiba-tiba ada batu besar yang jatuh sehingga menutupi mulut gua tersebut. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, ‘Lihatlah pada amalan yang paling baik yang pernah kalian kerjakan, lalu mohonlah kepada Allah dengan amalan tersebut, siapa tahu akan dibukakan celah pada batu tersebut bagi kalian.’ Lalu salah seorang di antara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia sementara aku memiliki isteri dan juga anak-anak yang masih kecil. Dan aku memelihara mereka. Karenanya, jika aku telah mengandangkan kambingku, aku mulai mengurus kedua orang tuaku, dimana aku memberi minum susu keduanya. Kemudian aku tidak mendatanginya sehingga kedua orang tuaku tidur. Kemudian aku membersihkan bejana, lalu memerah susu. Selanjutnya aku membawa susu itu dekat kepala kedua orang tuaku sementara anak-anak bergelantungan di kedua kakiku, karena aku tidak ingin memulai mengurus mereka sebelum mengurus kedua orang tuaku dan aku tidak ingin membangunkan keduanya. Dan aku masih terus berdiri sampai fajar bersinar terang. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku melakukan hal itu dalam rangka mencari keridhaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sebuah celah dimana kami dapat melihat langit darinya. Maka Allah pun membukakan celah bagi mereka sehingga mereka dapat melihat langit darinya… [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

    Dari Usair bin Jabir, dia berkata, ‘Umar bin al-Khaththab jika didatangi oleh rombongan penduduk Yaman, maka dia akan bertanya kepada mereka, “Apakah di antara kalian terdapat Uwais bin ‘Amir?” Sehingga dia mendatangi Uwais seraya berkata, “Engkau Uwais bin ‘Amir?” “Ya,” jawabnya.
    ‘Umar berkata, ‘Dari Murad dan kemudian Qaran?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Umar berkata, “Dan padamu terdapat penyakit kusta, lalu engkau sudah sembuh darinya, kecuali tersisa sebesar dirham?” “Ya,” jawabnya.
    ‘Umar bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?’ ‘Ya, masih,’ jawabnya.
    ‘Umar berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir dari rombongan penduduk Yaman dari Murad, kemudian dari Qaran. Dimana padanya terdapat penyakit kusta dan kemudian sembuh darinya kecuali satu tempat dari tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan menerimanya. Oleh karena itu, jika engkau bisa meminta kepadanya supaya memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.’ Oleh karena itu, mohonkanlah ampunan untukku.”

    Kemudian dia pun memohonkan ampunan untuknya. Lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Ke mana engkau hendak pergi?” “Ke Kufah,” jawabnya.

    ‘Umar berkata, “Maukah engkau aku tuliskan surat untukmu kepada pemimpinnya?” Dia berkata, “Aku tinggal bersama orang-orang miskin lebih aku sukai.”

    Usair berkata, “Dan pada tahun berikutnya, ada seseorang, yang termasuk pemuka di antara mereka, lalu berpapasan dengan ‘Umar, kemudian ‘Umar menanyakan Uwais. Orang itu berkata, ‘Aku meninggalkannya dengan rumah yang mengenaskan dan sedikit harta.’

    ‘Umar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir dari rombongan penduduk Yaman dari Murad dan kemudian dari Qaran. Di mana padanya terdapat penyakit kusta, kemudian sembuh darinya kecuali satu tempat pada tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya. Jika dia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Oleh karena itu, jika engkau bisa meminta kepadanya supaya memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah”

    Lalu Usair mendatangi ‘Uwais seraya berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku.”
    Usair berkata, ‘Engkau baru saja melakukan perjalanan yang baik, maka mohonkanlah ampunan untukku. Apakah engkau pernah bertemu ‘Umar?’ ‘Ya,’ jawabnya.

    Lalu dia pun memohonkan ampunan untuknya. Maka orang-orang pun memahaminya sehingga mereka pun pergi mendatanginya.

    Usair berkata, “Aku memakaikan baju burdah kepadanya. Di mana setiap kali dia dilihat oleh orang, maka orang itu berkata, ‘Dari mana Uwais mendapatkan baju burdah itu?’” [HR. Muslim]

    PERBUATAN BAIK YANG PALING BAIK
    Dari ‘Abdullah bin Dinar dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya ada seseorang dari Arab badui menemuinya pada satu jalan di Makkah, lalu ‘Abdullah bin ‘Umar memberinya salam dan membawanya di atas keledai yang ia tumpangi dan dia berikan penutup kepala yang ada di atas kepalanya. Ibnu Dinar berkata, “Lalu kami katakan kepadanya, ‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, sesungguhnya dia itu termasuk orang-orang badui dan orang-orang badui ridha dengan pemberian yang sedikit”

    Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sesungguhnya bapak orang ini adalah sahabat baik ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu dan sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

    “Sesungguhnya kebaikan yang paling baik adalah menyambung tali silaturahmi yang dilakukan oleh seseorang terhadap keluarga orang kecintaan ayahnya” [HR. Muslim]

    [Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

  14. Oleh karena itu sorga memang berada di telapak kaki IBU, BRO :)

  15. TAFSIR SURAT AL-IKHLASH

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Bismillahirrahmaanirrahiim

    Allah berfirman.
    Artinya :
    “Katakanlah : “Dialah Allah, Yang Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
    “Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan” [Al-Ikhlash : 2]
    “Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan” [Al-Ikhlash : 3]
    “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

    Mengenai “basmalah” telah berlalu penjelasannya.

    Sebab turunnya surat ini adalah, ketika orang musyrik atau orang Yahudi berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Beritakan kepada kami sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini [1]

    Qul = “Katakanlah”. Pernyataan ini ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. “Huwa Allahu ahad” = “Dialah Allah Yang Maha Esa”. Menurut ahli I’rab, huwa adalah dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah Allah khabar mubtada dan “Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu Ash-Shomad’ kalimat tersendiri. “Allahu Ahadun” Yakni, Dia adalah Allah yang selalu kamu bicarakan dan yang selalu kamu memohon kepada-Nya. “Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan-Nya, yang tiada bandingan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan. “Allahu Ash-Shomad” adalah kalimat tersendiri Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dia Ash-Shomad. Makna yang paling mencakup iallah Dia mempunyai sifat yang sempurna yang berbeda dengan semua mahkhluk-Nya.

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ash-Shomad ialah yang sempurna Keilmuan-Nya, Yang sempurna Kesantunan-Nya, Yang sempurna Keagungan-Nya, Yang sempurna Kekuasaan-Nya. Sampai akhir perkatan-Nya [2]. Ini artinya bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan makhluk karena Dia Maha Sempurna. Dan juga tertera dalam tafsir bahwasanya As-Shamad ialah yang menangani semua urusan makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa seluruh makhluk sangat bergantung kepada Allah Ta’ala. Jadi, arti yang paling lengkap ialah : Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya dan seluruh makhluk sangat bergantung kepada-Nya.

    “Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza wa Jalla tidak mempunyai anak karena Dia adalah Dzat Yang Maha Muali dan Maha Agung, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Seorang anak adalah sempalan dan bagian dari orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

    “Artinya : Ia adalah bahagian dari diriku” [3]

    Allah Azza wa Jalla tidak ada yang serupa dengan-Nya. Anak merupakan salah satu kebutuhan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan dunia maupun untuk menjaga kesinambungan keturunan. Allah Azzan wa Jalla tidak memerlukan itu semua. Dia juga tidak dilahirkan karena tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak memerlukan seorang dari makhluk-Nya. Allah telah mengisyaratkan bahwa mustahil bagi-Nya mempunyai anak, seperti dalam firman-Nya.

    “Artinya : Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri ? Dia menciptakan segala sesuatu ‘ dan Dia mengetahui segala sesuatu” [Al-An’am : 101]

    Seorang anak membutuhkan orang yang melahirkannya.

    Demikianlah, Allah adalah Dzat Yang Menciptakan segala sesuatu. Jika Allah menciptakan segala sesuatu berarti Dia terpisah dari makhluk-Nya.

    Dalam firman-Nya : Lam yaalid” = “tidak beranak” merupakan bantahan terhadap tiga kelompok anak Adam yang menyimpang. Mereka adalah orang Musyrik, orang Yahudi dan orang Nasrani. Orang musyrik meyakini bahwa malaikat yang mereka itu ‘Ibadur Rahman’ berjenis perempuan. Mereka mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah anak perempuan Allah. Orang Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah anak Allah, dan orang Nasrani mengatakan Al-masih adalah anak Allah. Kemudian Allah mengingkari mereka semua dengan firman-Nya “Lam yaalid wa lam yuu lad” = “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan”, karena Allah Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Pertama, tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Dia dilahirkan.

    Firman Allah.

    “Artinya : Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

    Yaitu tidak ada sesuatu pun yang menyamai seluruh sifat-sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan Dirinya mempunyai ayah atau Dia dilahirkan atau ada yang semisal dengan-Nya.

    Sureat ini mempunyai keistimewaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Bahwa ia (surat Al-Ikhlash) menyamai sepertiga Al-Qur’an” [4]

    Surat ini menyamai sepertiga Al-Qur’an tetapi tidak dapat menggantikan sepertiga Al-Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau seorang membaca surat ini sebanyak tiga kali di dalam shalat, masih belum mencukupi sebelum ia membaca surat Al-Fatihah. Padahal jika ia membacanya tiga kali, seolah-olah ia membaca semua Al-Qur’an, tetapi tidak dapat mencukupinya. Jadi, kamu jangan heran ada sesuatu yang sebanding tetapi tidak mencukupi. Misalnya sabda Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa membaca :

    “Artinya : Tiada ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”

    Seakan-akan ia telah membebaskan empat orang budak dari keuturunan Isma’il atau dari anak Ismail” [5]

    Padahal jika ia berkewajiban untuk membebaskan empat orang hamba, dengan mengatakan dzikir ini saja tidak cukup untuk membebaskan dirinya dari kewajiban membebaskan hamba tersebut. Oleh karena itu, sam bandingnya sesuatu belum tentu dapat menggantikan posisi yang dibandingkan.

    Surat ini dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada raka’at kedua shalat sunnah Fajr, shalat sunnah Maghrib dan shalat sunnah Thawaf [6]. Begitu juga beliau membacanya dalam shalat witir [7], karena surat ini merupakan landasan keikhlasan yang sempurna kepada Allah, inilah sebabnya dinamai dengan surat Al-Ikhlash.

    [Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]
    ________
    Foot Note
    [1]. Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad (5/133), At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, bab : Surat Al-Ikhlash, no. (3364)
    [2]. Hadits riwayat Ath-Thabrany dalam Tafsirnya (30/346). Dan Al-Baihaqy dalam Asma Wash Shiafat hal. 58-59
    [3]. Hadits riwayat Al-Bukhary dalam kitab Fadhilah Para Sahabat, bab : Budi pekerti kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Fatimah Radhiyallahu ‘anha no. (3714). Dan Muslim dalam kitab Fadhilah Para Sahabat, bab : Fadhilah Putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, no (2449) (93).
    [4]. Hadits riwayat Al-Bukhary dalam Kitab Fadhilah Al-Qur’an, bab : Fadhilah “Qul Huwa Allahu Ahad” no. (5015) Dan Muslim dalam kitab Shalat Para Musafir, bab : Fadhilah membaca “Qul Huwa Allahu Ahad”, no. (811) (30)
    [5]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Dzikir, bab : Fadhilah Tahlil, no. (2693) (30)
    [6] Telah disebutkan takhrijnya.
    [7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi, dalam Bab-bab Witir, bab : Bacaan yang dibaca dalam shalat witir, no. (463). Ia berkata : “hadits ini hasan gharib”.

  16. 1. Hati Yang Selalu Syukur
    Apabila kita selalu mensyukuri apa yang Allah swt. berikan, konsekuensinya
    kita akan selalu menerima dengan lapang dada ujian apa pun yang menimpa
    diri kita, sepahit dan sehebat apapun ujian tersebut. Oleh sebab itu, hati
    yang syukur menjadi kriteria kabahagiaan dunia, karena dengannya kita akan
    selalu syukur kalau ditimpa kebaikan dan akan sabar kalau ditimpa
    kesulitan. Bukankah sikap seperti ini yang akan membuat kita bahagia?

    Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
    “Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya
    baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila
    mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka itu lebih baik baginya, dan
    apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu lebih baik baginya.”
    (H.R.Muslim)

    2. Jodoh yang Shaleh
    Sungguh bahagia kalau kita punya jodoh yang shaleh, yang bisa menjadi
    penyejuk saat kita lelah menghadapi tantangan-tantangan hidup, menjadi
    penggembira saat kita sedih, dan menjadi pelindung saat kita menghadapi
    kesulitan. Jadi, mempunyai jodoh yang shaleh bisa dipastikan menjadi
    dambaan setiap orang. Namun, kenyataannya tak semudah yang kita harapkan,
    sebab Allah swt. telah menjadikan suami ataupun isteri menjadi batu ujian
    dalam kehidupan ini.

    “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan
    anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap
    mereka, dan jika kamu maafkan dan berlapang dada dan kamu menutupi
    kesalahannya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    (Q.S. At-Taghabun 64: 14)

    Jadi, walaupun jodoh yang shaleh itu menjadi dambaan kita, namun belum
    tentu kita mendapatkannya walau sudah berusaha sekuat tenaga. Bisa jadi, di
    antara kita ada yang diuji oleh isteri yang tidak shaleh seperti halnya
    nabi Nuh dan Luth a.s., atau diuji oleh suami yang tidak shaleh seperti
    halnya Asiah yang bersuamikan Fir’aun. Allah swt. menjelaskan hal ini dalam
    ayat berikut,

    “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang
    kafir. Keduanya di bawah pengawasan dua hamba yang shaleh di antara
    hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat (tidak mematuhi)
    suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat meolong kedua isterinya
    sedikit pun dari siksa Allah dan dikatakan: Masuklah kamu berdua ke neraka
    bersama orang-orang yang memasukinya. ” “Dan Allah membuat isteri Fir’aun
    perumpamaan terhadap orang-orang yang beriman, ketika dia berkata: Hai
    Tuhanku, dirikanlah bagiku di sisi-Mu satu rumah di surga, dan
    selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari
    kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim 66: 10-11)
    Oleh sebab itu, kita harus berusaha dan berdo’a agar diberi jodoh yang
    shaleh sehingga bisa meraih kebahagiaan dunia.

    3. Anak yang Shaleh
    Di antara indikator kebahagiaan dan kesuksesan dunia adalah kita memiliki
    putera-puteri yang shaleh, yang bisa menjadi penyejuk hati orang tuanya.
    Anak merupakan titipan Allah swt. yang harus dirawat, dididik dengan serius
    dan penuh tanggung jawab. Allah swt. mengingatkan agar kita bisa melahirkan
    generasi yang memiliki kekuatan materi, intelektual, dan spiritual. Kita
    mesti merasa takut kalau kita meninggalkan genarasi yang lemah, baik lemah
    secara material, intelektual, ataupun spiritual.

    “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan
    anak-anak yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap
    kesejahteraan mereka, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan
    hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa 4: 9)

    Selain sebagai titipan, anak pun merupakan batu ujian bagi kehidupan kita.
    “Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah cobaan. Dan di
    sisi Allahlah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghabun 64:15).

    Kalau kita sudah bersungguh-sungguh mendidiknya, namun ternyata anak
    tersebut tidak menjadi shaleh sesuai harapan kita, berarti kita sedang
    diuji Allah swt. dengan anak, seperti halnya Nabi Nuh a.s. yang telah
    bekerja keras mendidik anaknya yang bernama Kan’an, namun anaknya malah
    memusuhi ayahnya dan menentang ajaran-ajaran yang disampaikan ayahnya. Oleh
    sebab itu, bersyukurlah kalau kita memiliki anak yang shaleh, karena anak
    yang shaleh merupakan tanda kebahagiaan dunia.

    4. Lingkungan Pergaulan yang Shaleh
    Manusia adalah makhluk sosial, artinya dia tidak bisa hidup sendirian tanpa
    teman. Persahabatan atau pertemanan akan banyak mempengaruhi cara berpikir,
    bersikap, dan berbuat, sehingga ada keterangan yang menyebutkan Al
    Mushahabatu tasriqu Thabii’ah, artinya persahabatan itu suka mencuri
    tabiat. Maksudnya, dalam berinteraksi dengan teman sangat mungkin ada
    perilaku atau cara berpikir mereka yang diadopsi oleh kita, dan bisa juga
    sebaliknya.Syukur- syukur kalau kita selalu mengadopsi cara berpikir dan
    berbuat orang lain yang positif. Yang dikhawatirkan, kalau yang kita adopsi
    dari mereka justru hal-hal negatif.

    Begitu pentingnya peranan sahabat atau lingkungan, sampai-sampai nabi
    Ibrahim a.s. pernah berdo’a, “Rabbi hablii hukman wa alhiqnii
    bishshalihin, ” artinya: Ya Tuhanku, beri aku ilmu dan masukkan aku ke dalam
    lingkungan orang-orang shaleh. (Q.S. Asy-syu’ara 26: 83).

    Tentu saja do’a ini bisa kita baca juga untuk meminta kepada Allah agar
    diberi teman atau lingkungan pergaulan yang baik. Beruntunglah kalau kita
    memiliki lingkungan pergaulan yang baik karena itu merupakan indikator
    kebaikan dunia.

    5. Harta yang Halal
    Manusia tidak bisa lepas dari kehidupan yang bersifat material, karena
    Allah swt. telah menetapkan fitrah kepada manusia untuk mencintai harta,
    sebagaimana firman-Nya:” Dijadikan indah bagi manusia macam-macam yang
    dinginkannya, di antarnya wanita-wanita, anak-anak, harta yang melimpah
    berupa emas, perak, kuda (kendaraan) yang bagus, binatang ternak, dan sawah
    ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan pada sisi Allah ada
    sebaik-baik tempat kembali (surga).” (Q.S. Ali Imran 3: 14)

    Yang menjadi persoalan adalah cara mendapatkannya. Tidak sedikit orang yang
    menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta dengan asumsi bahwa harta
    yang banyak akan menjamin kebahagiaan dunia. Padahal, kebahagiaan
    sesungguhnya bukan diukur dari berapa banyaknya harta yang kita punya tapi
    seberapa halal kita mendapatkannya.

    Sesungguhnya, maraknya korupsi dan manipulasi dipacu oleh asumsi bahwa
    kesuksesan dunia diukur dari banyaknya harta dan bukan dari aspek
    kehalalannya. Selama sebagian bangsa kita masih memikili asumsi seperti
    ini, maka praktik korupsi, kolusi, dan manipulasi lainnya akan tetap marak.
    Jadi, untuk menghapus praktik-praktik haram itu, paradigma berpikir tentang
    harta mesti diubah, bahwa kemuliaan
    seseorang bukan diukur dari banyaknya harta tapi ditentukan oleh seberapa
    halal cara mendapatkannya. Jadi, kriteria kebahagiaan dunia adalah harta
    yang halal bukan harta yang banyak, syukur-syukur harta kita itu halal dan
    banyak.

    6. Ilmu yang Bermanfaat
    Allah memberikan pada manusia sejumlah perangkat untuk mendapatkan ilmu, di
    antaranya pendengaran, penglihatan, dan akal, sebagaimana firman-Nya:
    “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
    sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, serta hati agar
    kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl 16: 78).

    Yang dimaksud agar kamu bersyukur adalah agar kita menggunakan mata,
    telinga, dan akal untuk mendapatkan ilmu.

    Ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia menjadi lebih unggul
    dibandingkan makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal
    ini terungkap dalam kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan dalam
    Q.S. Al-Baqarah ayat 31-32, yaitu ketika Allah menunjukkan kemampuan Nabi
    Adam a.s. dalam memahami fenomena alam dihadapan para malaikat.
    Oleh sebab itu, apabila kita memiliki ilmu –apapun jenis ilmu tersebut,
    apakah ilmu kauniyyah (ilmu tentang alam semesta dengan segala fenomenanya)
    ataupun ilmu diniyyah (ilmu yang berkaitan dengan keagamaan)– , selama ilmu
    itu bermanfaat bagi kehidupan, berarti kita telah mendapatkan kebaikan
    dunia. Rasulullah saw. dalam suatu riwayat yang shahih menyebutkan bahwa
    ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walaupun kita sudah
    wafat, yaitu, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendo’akan
    orang tuannya, dan shadaqah jariah. Oleh sebab itu, sungguh beruntung kalau
    ilmu yang kita miliki bermanfaat untuk kehidupan sehingga bisa menjadi
    amalan yang mengalir
    pahalanya walaupun kita sudah meninggal.

    7. Umur yang Barakah
    Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang terikat waktu. Sifat waktu itu
    dinamis, berjalan terus. Keadaan manusia pun berubah sesuai dengan
    perjalanan waktu. Contoh sederhana, bulan lalu kita masih mahasiswa,
    sekarang sudah bergelar sarjana atau bisa juga malah drop out. Tahun lalu
    bergelar ayah, sekarang menjadi kakek. Jadi, sadar atau tidak, perjalanan
    waktu akan mengubah kita.

    Persoalannya, ke arah mana perubahan itu terjadi? Ada tiga kemungkinan.
    Siapa yang kualitas amal shaleh hari ini sama dengan kemarin, itulah orang
    yang tertipu oleh waktu. Siapa yang kualitas hari ini lebih buruk
    dibandingkan dengan hari kemarin, itulah orang yang terpuruk. Dan siapa
    yang kondisi hari ini lebih baik dari hari kemarin, itulah orang yang
    mendapat rahmat.

    Ciri orang yang mendapat kebahagiaan dunia adalah orang yang selalu
    berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin. Selalu berusaha mengisi
    umurnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Itulah yang disebut umur yang
    barakah. Makin bertambah umurnya, makin meningkat pula amaliah shalehnya.
    Sehingga ketika Allah swt. memanggilnya, ia berada di klimaks keshalehan.

    Mencermati analisis di atas, bisa disimpulkan, ketika kita memohon “Ya
    Allah berikan kepada kami kabahagiaan dunia,” berarti kita meminta minimal
    tujuh kebaikan, yaitu hati yang syukur, jodoh yang shaleh, anak yang jadi
    penyejuk hati, lingkungan pergaulan yang baik, harta yang halal, ilmu yang
    bermanfaat, serta umur yang barakah.

    Lalu, apa yang dimaksud, “Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan akhirat
    dan jauhkan kami dari adzab neraka?” Kebahagiaan akhirat adalah Ridha Allah
    dan surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan sebagaimana dijelaskan dalam
    surat Al Maidah ayat 119,
    ” . . . Bagi mereka surga yang penuh kenikmatan; mereka kekal di dalamnya,
    Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. Itulah
    keberuntungan yang sangat besar.”
    Semoga Allah swt. memasukkan kita dalam surga yang penuh kenikmatan. Amiin.
    Wallahu A’lam

    Sumber : http://www.percikan- iman.com

  17. BUKTI KEBESARAN ALLAH
    SObat – Sobat ku Ini lah Bukti bahwa ALLAH SWT ITU MAHA BESAR DAN MAHA SUCI.

    APAKAH YANG MEMBUKTIKANNYA ?

    SILAHKAN SOBAT – SOBAT KU KLIK TULISAN DI BAWAH INI DAN DIA AKAN MENDOWNLOAD SENDIRI:

    Sang LaskarSeratus.com

    SEMOGA BERMANFAAAT

  18. Selamat Pagi..!!! Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin…

    Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua
    rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah
    jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas
    selesai. Tanpa doa dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah
    sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib
    sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum
    termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun
    kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

    Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya
    dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki
    mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
    Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah
    Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan
    berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju
    sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk
    bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

    Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya,
    apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang
    mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar,
    padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat
    Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat
    dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang
    malas. Yang begini ngaku beriman?

    Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk
    meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka
    terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna
    terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang
    mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes
    yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena
    lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan
    pengamalan tertinggi.

    Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang
    terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik
    terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan
    bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang
    beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih
    susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan
    dan Kasih Allah?

    Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur
    lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata
    milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan
    semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa
    penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada
    musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
    beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

    Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya
    tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh
    temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu
    ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk
    menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada
    ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap
    orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah
    hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini
    bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

    Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang
    beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang
    berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita
    menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus
    bermuka masam terhadap saudara sendiri?

    Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua
    kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah
    lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh
    apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
    besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga
    darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

    Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang
    disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang
    sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan
    tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah
    seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut
    untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat
    hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi
    mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil
    orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan
    kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

    Astaghfirullaah …..

    Sumber : Eramulsim.com

  19. Subhanallah’ Maha Suci ALLAH.
    Saudara2ku itu merupakan salah satu tanda kebesaran ALLAH SWT. Dengan itu kita sebaiknya mempergunakan hidup ini untuk beribadah kepada-NYA dan mengharapkan Ridho-NYA.

  20. #
    YanS, di/pada Mei 18th, 2008 pada 10:40 am Dikatakan: Edit Comment

    Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

    1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).
    2. Disunahkan! pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,
    Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.
    3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kit! ab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”
    4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah.”
    5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).
    6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,

    “Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).
    7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

    Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

    ——–
    Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

    Entry Filed under: Pernikahan. .

  21. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” [3]

  22. Dari Abu Bakrah bahwa Nabi Saw bersabda : “Apabila dua orang Muslim saling bertarung dengan menghunus pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka.” [Shahih Bukhari dan Shahih Muslim]

  23. Dari Abdullah Bin Mas’ud berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah: Amalan apakah yang dicintai oleh Allah Beliau menjawab: Sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa Beliau menjawab: Jihad dijalan Allah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

  24. wah bagus juga tu untuk referensi nya, thanks yah, kita jadi banyak belajar nieh

  25. Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu rasa takutan akan diri-Mu di waktu sunyi dan keramaian, dan saya memohon kepada-Mu untuk (mampu) berkata benar di waktu marah dan ridho, dan saya memohon kepada-Mu untuk sikap sederhana di waktu miskin dan kaya” ( H.R. Nasai dari Amar bin Yasir, no: 1304 dan dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani di kitab Shohih Jami no : 1301, 1/279 ).

  26. Salam,

    Berhubung banyak nama yang tidak jelas masuk ke blog itsar,entah dengan tujuan apa, maka dari itu saya sebagai ADMINISTRATOR WEB BLOG ITSAR akan menghapus nama – nama yang tidak jelas dan juga bila ada perkataan yang kurang sopan pun akan saya langsung hapus tanpa komfirmasi lagi, Mohon Maklum adanya

    oleh karena itu bagi sobat – sabat semua di harapkan untuk menulis NAMA DAN ALAMAT EMAIL SENDIRI DENGAN JELAS DAN MASIH AKTIF

    Terima kasih dan salam hangat

    Sang LaskarSeratus

  27. ass. akh edi tolong beri informasi menurut Al Quran n hadist-hadist sahih tentang :
    1. apa saja aurat lelaki n wanita yang sudah akil baligh, yang boleh terlihat n tidak boleh?
    2. apa kk/ad ipar yang wanita termasuk muhrim?
    3.ketika kita sudah berwudhu n bersentuhan dengan istri, apa wudhu kita jadi batal?
    jazakillah khairan katsiro, atas jawabannya

  28. Alaikummussalam, Untuk akhi Apunk maaf baru dijawab. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain ALLAH dan aku bersaksi Muhammad utusan ALLAH. Kita sebagai Umat Islam harus bersumber kepada Kitabullah dan Sunnah Rosullullah yang sohih.
    1. apa saja aurat lelaki n wanita yang sudah akil baligh, yang boleh terlihat n tidak boleh?
    Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min: `Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.` (QS. Al-Ahzab: 59)
    Katakanlah kepada wanita yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.` (QS. An-Nur: 31).
    Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.`(QS. Al-Ahzab: 53)
    Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya`.Menurut At-turmuzi hadis ini kedudukannya hasan shahih.
    يا أسـماء، إن المـرأة إذا بلغت المحيـض، لم يصلح أن يرى منها إلا هذا وهذا ” وأشار إلى وجهه وكفيه
    Wahai Asma’, seorang wanita yang sudah hadih itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini` Sambil beliau memegang wajar dan tapak tangannya.
    Kesimpulan : Aurat Wanita yaitu 1.Seluruh Tubuh berdasarkan Hadist yg diriwayatkan
    At- Turmuzi
    2.Yang boleh di Tampakkan wajah dan tapak tangan
    Berdasarkan Hadist yg diriwayatkan Asma binti
    Abi bakar
    3. Yang boleh di tampakkan hanya celakmata (bercadar)
    Aurat Laki2 yaitu dari pusar hingga lutut (akan tetapi jika kita mau Ibadah
    / muamalah kpd orang alangkah baiknya kita memakai
    pakaian yang menutupi badan dan kaki (jgn menutupi
    mata kaki)

  29. 2. apa kk/ad ipar yang wanita termasuk muhrim?
    Yang dimaksud dengan mahram pada dasarnya adalah wanita yang haram untuk dinikahi. Jenisnya ada dua macam, yang bersifat abadi (muabbad) dan yang bersifat sementara (muaqqat). Yang bersifat abadi di antaranya ibu, saudari, bibi, anak perempuan, mertua perempuan, menantu perempuan, atau saudara sesusuan. Sedang yang bersifat sementara misalnya isteri orang, atau saudari ipar.

  30. Tanda Tanda Kematian

    Innalillahi wa innalillahi rojiun, datang dari Alloh dan akan kembali kepadaNya, semoga kita selalu menjadi orang – orang yang selalu mengingatNya dan beruntung serta saling mengingatkan.

    Tanda 100 hari mau meninggal…
    Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka yang dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini cuma saja mereka sadar atau tidak.

    Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu Asar. Seluruh tubuh iaitu dari hujung rambut sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar.

    Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik di hati bahwa mungkin ini adalah tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini.

    Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa sembarang manfaat.

    Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

    “Tanda 40 hari sebelum hari mati”
    Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bahagian pusat kita akan berdenyut- denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan- akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.

    “Tanda 7 hari”
    Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan, secara tiba-tiba ia berselera untuk makan.

    “Tanda 3 hari”
    Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita iaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dikesan, maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan- lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan- lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

    “Tanda 1 hari”
    Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di kawasan ubun- ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

    “Tanda akhir”
    Akan terjadi keadaan di mana kita akan merasakan sejuk di bagian pusat dan rasa itu akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah Syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

    Sesungguhnya mengingat kematian itu adalah bijak

  31. uh…takuuutttt…..

  32. ass. Af1 akh edi pertanyaan yang ke3 blm dijawab? klo ud dapat hadist sohihnya dijwb ya… syukron

  33. Ustadz yang saya hormati, saya ingin menanyakan satu permasalahan. Di daerah saya banyak orang yang mengaku mengikuti madzhab Syafi’iyah, dan saya lihat mereka ini sangat fanatik memegangi madzhab tersebut. Sampai-sampai dalam permasalahan batalnya wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Mereka sangat berkeras dalam hal ini. Sementara saya mendengar dari ta’lim-ta’lim yang saya ikuti bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’. Saya jadi bingung, Ustadz. Oleh karena itu, saya mohon penjelasan yang gamblang dan rinci mengenai hal ini, dan saya ingin mengetahui fatwa dari kalangan ahlul ilmi tentang permasalahan ini. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira.
    (Abdullah di Salatiga)

    Jawab:
    Masalah batal atau tidaknya wudhu’ seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada diantara mereka yang berpendapat membatalkan wudhu’ seperti Imam Az-Zuhri, Asy-Sya’bi, dan yang lainnya. Akan tetapi pendapat sebagian besar ahlul ilmi, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Katsir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini, tidak batal wudhu’ seseorang yang menyentuh wanita. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

    Syaikh Muqbil rahimahullahu ta’ala pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa dan walhamdulillah beliau memberikan jawaban yang gamblang. Sebagaimana yang Saudara harapkan untuk mengetahui fatwa ahlul ilmi tentang permasalahan ini, kami paparkan jawaban Syaikh sebagai jawaban pertanyaan Saudara. Namun, di sana ada tambahan penjelasan dari beliau yang Insya Allah akan memberikan tambahan faidah bagi Saudara. Kami nukilkan ucapan beliau dalam Ijabatus Sa-il hal. 32-33 yang nashnya sebagai berikut :

    Beliau ditanya: “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudlu’, baik itu menyentuh wanita ajnabiyah (bukan mahram), istrinya ataupun selainnya?” Maka beliau menjawab: “Menyentuh wanita ajnabiyah adalah perkara yang haram, dan telah diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam Mu’jamnya dari Ma’qal bin Yasar radliyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    Sungguh salah seorang dari kalian ditusuk jarum dari besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.
    Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam Shahih keduanya dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina, senantiasa dia mendapatkan hal itu dan tidak mustahil, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati cenderung dan mengangankannya, dan yang membenarkan atau mendustakan semua itu adalah kemaluan.

    Maka dari sini diketahui bahwa menyentuh wanita ajnabiyah tanpa keperluan tidak diperbolehkan. Adapun bila ada keperluan seperti seseorang yang menjadi dokter atau wanita itu sendiri adalah dokter, yang tidak didapati dokter lain selain dia, dan untuk suatu kepentingan, maka hal ini tidak mengapa, namun tetap disertai kehati-hatian yang sangat dari fitnah.

    Mengenai masalah membatalkan wudhu’ atau tidak, maka menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu’ menurut pendapat yang benar dari perkataan ahlul ilmi. Orang yang berdalil dengan firman Allah ‘azza wa jalla :
    Atau kalian menyentuh wanita

    Maka sesungguhnya yang dimaksud menyentuh di sini adalah jima’ sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma.
    Telah diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari di dalam Shahihnya dari ‘Aisyah radliyallahu’anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat pada suatu malam sementara aku tidur melintang di depan beliau. Apabila beliau akan sujud, beliau menyentuh kakiku. Dan hal ini tidak membatalkan wudhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’ berdalil dengan riwayat yang datang di dalam as-Sunan dari hadits Mu’adz bin Jabal radliyallahu ‘anhu bahwa seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium seorang wanita”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam sampai Allah ‘azza wa jalla turunkan:

    Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan pada pertengahan malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan.

    Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :
    Berdirilah, kemudian wudhu’ dan shalatlah dua rakaat.

    Pertama, hadits ini tidak tsabit (kokoh) karena datang dari jalan ‘Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia tidak mendengar hadits ini dari Mu’adz bin Jabal. Ini satu sisi permasalahan. Kedua, seandainya pun hadits ini kokoh, tidak menjadi dalil bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu’, karena bisa jadi orang tersebut dalam keadaan belum berwudhu’. Ini merupakan sejumlah dalil yang menyertai ayat yang mulia bagi orang-orang yang berpendapat membatalkan wudhu’, dan engkau telah mengetahui bahwa Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan jima’. Wallahul musta’an.

  34. Assalamu’alaikum,
    Untuk saudara2 yang ingin membaca Al Qur’an.

    http://www.quranflash.com/en/quranflash.html

  35. syukron ya atas jawabannya…

  36. To : Edi
    gw juga mo tanya nieh, bolehkan ? kan Sang LaskarSeratus juga manusia, heheheheeh :)

    ” kalo ga salah bagi seorang lelaki di haramkan memakai Sutra dan Emas ”

    Nah bagaimana kalo seandainya kita menggunakan Emas Putih, Haram Juga ga? Kalo bisa ada hadist sohehnya yah?

    cos gw penah dengan katanya emas putih itu gpp di apakai< itu bener ga?

  37. Assalamu’alaikum. Untuk akhi Umar, untuk masalah kehidupan kita harus mengacu kepada Kitabullah dan Sunnah Rosullullah yang berdasarkan pemahaman para salafusholih / para sahabat . Untuk emas putih yang dimaksud emas putih yang memang emas atau emas putih yang dimaksud platina. kalau emas putih = emas hukumnya haram, walaupun hanya 1 karat.jika yang dimaksud emas putih = platina maka hukumnya tidak haram.
    Saran saya sebaiknya kita sebagai pria jangan berlebih- lebihan dalam aksesoris dan untuk tukar cincin sebaiknya dihindari karena taysbuh terhadap orang kafir / non muslim. Wallahhua’alam

  38. Daripada Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. Bersabda; “Akan timbul di akhir zaman orang-orang yang mencari keuntungan dunia dengan menjual agama. Mereka menunjukkan kepada orang lain pakaian yang dibuat dari kulit kambing (berpura-pura zuhud dari dunia) untuk mendapat simpati orang banyak, dan percakapan mereka lebih manis daripada gula. Padahal hati mereka adalah hati serigala (mempunyai tujuan-tujuan yang jahat). Allah swt. Berfirman kepada mereka, “Apakah kamu tertipu dengan kelembutan Ku?, Ataukah kamu terlampau berani berbohong kepada Ku?. Demi kebesaran Ku, Aku bersumpah akan menurunkan suatu fitnah yang akan terjadi di kalangan mereka sendiri, sehingga orang yang alim ( cendikiawan ) pun akan menjadi bingung (dengan sebab fitnah itu)”. [H.R Tirmizi]

  39. Hikmah
    Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata. ( Hud : 6 ).

  40. Hikmah
    Perbaikilah makananmu ( makanlah makanan yang halal ) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya (HR.Thabrani).

  41. akh edi mo tanya lagi nich,
    Apa suami bertangggung jwb juga, atas aurat istrrinya? atau menjadi tanggung jwb istri sendir?

  42. Assalamu’alaikum,
    Untuk Akhi Apank, seharusnya kita sebagai muslim dalam kehidupan sehari – hari harus berlandaskan Kitabullah dan Sunnah Rosullullah yg berdasarkan pemahaman para sahabat / para salafussholih.
    Untuk Aurat wanita seorang suami wajib menasehati, memerintahkan, mengajak, memfasilitasi ( membelikan atau mengumpulkannya dengan wanita yg soliha) dan berdo’a, jika semua usaha sudah kita(suami) lakukan . Maka tanggung jawab terhadap ALLAH SWT, semuanya menjadi tanggung jawab Istri. Wallahhua’lam.

  43. Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.” [QS. As-Syura:16]

  44. Dan kepada orang yang kafir pun, Kami akan beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa mereka menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali ( Al Baqarah 126 ).

  45. To : Edi (Dewan Suro ITSARS)

    GW mo tanya nieh….kalo kita sholat tetapi imam kita sudah duduk tahiat Akhir, trus gw sebagai makmum masih rokaat ke 1, yang pengen gw tanya

    - apakah gw saat ikut duduk tahiat Akhir gaya duduknya mengikuti Iman (duduk tahiat Akhir) atau gw tetap duduk tahiat awal :arrow: :?:

    - dan apakah bacaan gw harus mengikuti imam sampai pada “hamidummajid” atau hanya sampai sholawat ajah ? :arrow: :?:

    thanks 8)

  46. Assalamu’alaikum, Untuk Akhi Umar. Kita sebagai umat Islam harus berdasarkan kitabullah dan sunnah Rosulullah yg berdasrkan pemahaman salafussholeh / para sahabat .
    - Antum harus mengikuti imam yaitu duduk istirotz (duduk tahiyat akhir ) walaupun antum baru mengikuti 1 rakaat.
    - Bacaan Tasyshudnya antum sampai ”ALLAHHUMMA SHOLLI ALAMUHAMMAD WA’ALA’ALIHI MUHAMMAD KAMMA SHOLAITA ALA’IBROHIM WA’ALA’ALIHI IBROHIM FIL ALAMINA INNAKA HAMMIDUMMAJID” Itu batas Tasyshud awal,
    jadi antum jika tasyahud awal jangan hanya sampai di sholawat saja.
    Wallahhu’alam

  47. Assalamu’alaikum,
    Untuk Saudara2 ku seiman, Berdasarkan para ahli astronomi Insya ALLAH, pada hari ahad tgl.17 Agustus 2008 pd jam 02.30 pagi sampai 05.00 pagi akan terjadi gerhana bulan parsial ( setengah ) yg puncaknya pada jam 04.15 pagi. Di himbau bagi kaum muslimin untuk melaksanakan sholat sunnah gerhana bulan.
    Terima kasih

  48. Mungkin bisa menjadi jawaban dari pertanyaan2 yg selama ini selalu menghantui kamu perempuan….

    Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung Dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
    7. Talak terletak di tangan suami Dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid Dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

    Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA”.

    Pernahkah Kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?

    1. Benda yang Mahal harganya akan dijaga Dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman Dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

    2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

    3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya Dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri Dan anak-anak.

    4. Wanita perlu bersusah payah mengandung Dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat Dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, Dan tahukah jika ia mati

    1. karena melahirkan adalah syahid Dan surga menantinya.

    5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap! 4 wanita, yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya Dan saudara lelakinya.

    6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu:sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya Dan menjaga kehormatannya.

    7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan Buatan mereka. (emansipasi Ala western)

    Yakinlah, bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan Kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya / peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.

    Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar Kita (kaum lelaki) Berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

    Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga Dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).

    Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd Dan semu di dunia ini. Tunaikan Dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu

  49. Tahu kah ada susahnya seorang lelaki :

    1. harus tanggung jawab dan wajib memberikan nafkah pada Istri,anak&keluarganya.
    2. Bertanggung terhadap Istri dan anak2 nya untuk beribadah kepada ALLAH.
    3. Harus mampu melindungi Keluarganya.dll deh

    ada lagi yang lain?

  50. Do’a malaikat Jibril menjelang Ramadhan : “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri; * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat , dan dilakukan pada hari Jumaat. Oleh itu SAYA TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF jika saya ada berbuat kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja , semoga kita dapat ibadah puasa tahun ini dengan IKHLAS dan kembali dalam kefitrahan

  51. Assalammu’alaikum akh edi…
    ane ada pertanyaan yang cukup banyak,
    1. apbila kita sholat jamaah n lupa mematikan hp, trus hp kita bunyi.. apakah kita boleh mengambil n mematikan hpnya tanpa membatalkan sholat?
    2. ketika kita sholat ada yang datang n mengucapkan salam, apa salam itu wajib kita jawab?
    3. ketika sholat jamaah hanya berdua, apa berdirinya harus sejajar antara imam n makmum?
    4. Dalam sholat jamaah, ane sering mendengar imam tak membaca basmalah ketika sebelum n sesudah Al fatihah,
    apakah ada dalil yang kuat tentang hal tersebut?
    5.Apakah maaf2an sebelum puasa n halal bihalal setelah lebaran termasuk ajaran islam atau hanya tradisi nenek moyang kita saja?
    6.saat wanita hamil tak berpuasa.. apakah ia cukup membayah fidyah saja, atau juga harus meng Qodho puasanya dihari yang lain?

    tolong jelaskan satu persatu jawabannya dengan Al Quran dan hadist yang benar-benar shohih…
    Syukron ya Akh Edi..

  52. Renungkanlah sebelum ajal menjemput.

    Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:

    قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

    “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

  53. Cuma sharing cerita…

    Berhentilah Jadi Gelas
    Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? “, sang Guru bertanya.
    “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

    Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.” Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

    “Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

    “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
    “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

    Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

    “Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapanguru, begitu pikirnya.

    “Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

    Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

    “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

    “Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

    “Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar olehTuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorangnabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

    Si murid terdiam, mendengarkan.
    “Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘kalbu’ yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikankalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”~

  54. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa suatu hari Rasul SAW didatangi oleh seseorang yang ingin berkonsultasi. Orang itu bertanya, ”Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika ada orang hendak mengambil hartaku?” ”Jangan kau berikan hartamu kepadanya!”
    ”Bagaimana kalau orang itu akan membunuhku?”
    ”Lawanlah dia!”
    ”Bagaimana jika ia benar-benar membunuhku?”
    ”Engkau mati syahid.”
    ”Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”
    ”Dia akan masuk neraka,” tegas Rasul.
    Dialog konsultatif tersebut mengisyaratkan bahwa setiap Muslim harus berjiwa ksatria demi kemuliaan diri (izzah). Berani karena benar, dan rela berkorban demi membela kebenaran.

    Sifat ksatria adalah benteng kemuliaan diri. Menjadi Muslim harus terhormat, bermartabat, tidak menjadi sasaran penghinaan dan penistaan. Karena itu, Muslim dilarang bersikap rendah dan lemah diri. ”Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang paling tinggi (derajatnya), jika kamu beriman.” (QS Ali Imran [3]: 139).

    Jiwa ksatria menempa Muslim untuk tegar dalam menghadapi cobaan iman, tampil dengan etos kerja dan produktivitas yang tinggi, dan semangat bersaing yang kuat. Umar bin Al-Khattab pernah menyatakan, ”Dahulu (sebelum Islam) kami sungguh hina dan tidak bermartabat. Lalu Allah membuat kami mulia dengan berislam. Jika mencari kemuliaan di luar Islam, maka Allah akan membuat kita hina.”

    Nabi SAW adalah teladan ksatria dalam banyak hal. Beliau ksatria dalam mengakui kekhilafan dan kekurangannya dengan banyak beristighfar. Beliau ksatria dalam memimpin perang melawan musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya. Beliau ksatria dalam mengambil keputusan dengan cepat dan tepat di saat diperlukan. Beliau ksatria dalam membela kaum miskin dan tertindas.

    Beliau ksatria dalam menegakkan keadilan hukum bagi siapa pun yang berperkara. Beliau ksatria dalam melindungi dan membahagiakan rumah tangganya. Beliau juga ksatria dalam berbisnis: bersikap jujur, terbuka, dan tidak curang. Beliau ksatria dalam membedakan antara urusan pribadi dan urusan umat, sehingga beliau selalu bertindak penuh kemuliaan, keadilan, dan kemanfaatan bagi semua. Sudah saatnya kita memperbaiki diri agar memiliki jiwa yang tangguh, sesuai tuntunan Islam.

  55. Thanks, sngat membantu

Tinggalkan Balasan